REPORT DISKUSI 0ASE CENDEKIA
Liminalitas Hubungan Muslim-Kristen di Kabupaten Fakfak, Papua Barat: Studi atas Ritus Tombor Maghi
Keterangan: Materi ini adalah penelitian Disertasi Pdt. Ngabalin dalam studi doktoralnya di Universitas Kristen Satya Wacana.
Pdt.
Ngabalin, mengawali penelitiannya dengan pandangan bahwa ritual memiliki
peranan penting dalam membangun kohesi sosial, menciptakan ruang dialog, dan
mendukung proses perdamaian di tengah masyarakat yang majemuk. Pdt. Ngabalin
kemudian melihat bahwa ritual adat Tombor Maghi yang berasal dari Kabupaten
Fakfak adalah ritual yang punya potensi besar untuk memperkuat hubungan
harmonis antara masyarakat Muslim dan Kristen. Jika mengingat sejarah tradisi
ini, konflik antarkelompok merupakan alasan mengapa kemudian ritual ini muncul.
Tradisi ini kemudian difungsikan sebagai mekanisme penyelesaian konflik
antarkelompok melalui perkawinan lintas marga, dan didalamnya terdapat agama
Islam dan Kristen. Kedua agama ini sekaligus menjadi fokus Pdt. Ngabalin untuk
mengangkat berbagai nilai yang muncul dari ritual Tombor Maghi.
Lebih
jauh Pdt.Ngabalin menjelaskan bahwa dalam praktik dasar, ritual ini melibatkan
pemberian harta adat sebagai bentuk penghormatan terhadap perempuan dan
keluarganya. Tombor Maghi terdiri atas beberapa tahapan, mulai dari proses
peminangan, pengumpulan mahar adat, hingga pelaksanaan ritual dan perhelatan
budaya yang melibatkan masyarakat luas. Nilai-nilai yang terkandung dalam
ritual ini tidak hanya berkaitan dengan penghormatan terhadap perempuan, tetapi
juga menekankan semangat gotong royong, saling membantu, dan kepedulian sosial.
Lalu,
apakah Tombor Maghi terbatas pada acara perkawinan? Tidak. Seiring perkembangan
zaman, ritual tersebut tidak hanya dipahami sebagai bagian dari adat
perkawinan, tetapi juga berkembang menjadi simbol solidaritas sosial,
persaudaraan, dan integrasi antarumat beragama melalui diperluasnya ritual Tombor
Maghi ke berbagai bidang kehidupan, seperti Gereja Maghi, Mesjid Maghi,
Pendidikan Maghi, dan berbagai bentuk kegiatan sosial lainnya. Cakupan ritual
yang lebih luas ini tidak hanya membangun relasi yang damai, tetapi juga
membangun masa depan dengan pembangunan yang berkelanjutan.
Secara
singkat, hasil penelitian yang dilakukan oleh Pdt. Ngabalin menunjukkan bahwa
Tombor Maghi berfungsi sebagai ruang liminalitas yang memungkinkan masyarakat
Islam dan Kristen berinteraksi dengan damai dalam suasana kebersamaan dan
persaudaraan. Melalui ritual ini, perbedaan agama tidak menjadi penghalang bagi
terbentuknya kerja sama sosial dan solidaritas kolektif. Tokoh adat dan tokoh
agama memainkan peran penting sebagai mediator yang menjaga hubungan harmonis
antarumat beragama.
Ritual
ini menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi fondasi penting bagi
pengembangan dialog antaragama, penguatan toleransi, dan pembangunan masyarakat
yang inklusif. Oleh karena itu, Tombor Maghi layak dipertahankan dan
dikembangkan sebagai warisan budaya sekaligus sebagai model relasi lintas agama
yang berbasis pada nilai-nilai persaudaraan, solidaritas, dan penghormatan terhadap
keberagaman.
Sesi
diskusi:
Penelitian
yang dilakukan Pdt. Ngabalin mendapat respon positif dari peserta diskusi. Beberapa diantaranya menanyakan hal berkaitan
dengan ritual adat Tombor Maghi, terutama bagaimana status dan keterlibatan
perempuan dalam ritual tersebut. Oleh karena Pdt. Ngabalin tidak fokus pada
persoalan perempuan, maka pertanyaan ini sekaligus menjadi undangan juga rekomendasi
penelitian selanjutnya untuk melihat ritual ini dari sudut pandang feminis.
