BSMlTUMiGSApBUMlTUM0Tpr8Gi==

Pertanian Sebagai Jalan Menuju Kesejahteraan: Spiritualitas dan Kehidupan Masyarakat Adat Baduy

                         REPORT DISKUSI 0ASE CENDEKIA 

Pertanian Sebagai Jalan Menuju Kesejahteraan: Spiritualitas dan Kehidupan Masyarakat Adat Baduy

Pemateri memulai dengan mengajukan pertanyaan mendasar: apa itu kesejahteraan? Menurutnya, kata “sejahtera” mengalami permasalahan pendefinisian, terutama ketika diterjemahkan dalam konteks bahasa inggris dan bahasa Indonesia. Terdapat dua pemahaman utama, yaitu well-being yang bermakna kesejahteraan secara holistik mencakup lahir dan batin, dan welfare yang merupakan kesejahteraan dalam hal ekonomi dan pelayanan publik. Pemeteri mengatakan bahwa perbedaan makna inilah yang sering membuat cara kita memaknai pertanian menjadi sempit karena pertanian sering dipahami hanya sebagai kegiatan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan pangan. Dalam praktik pertanian modern, alam kerap dieksploitasi demi mengejar mimpi politik tertentu. Akibatnya, manusia bergantung pada satu jenis pangan saja atas nama kesejahteraan, sementara alam dan keberagaman hayati dikorbankan.

Berbeda dengan logika tersebut, pemateri memperlihatkan bahwa masyarakat Adat Baduy justru menawarkan cara lain. Melalui praktik Ngahuma (praktik pertanian tradisional), mereka menjaga kesuburan tanah dengan cara membiarkan tanah beristirahat dalam jangka waktu tertentu. Dalam praktik Ngahuma ada aturan utama yang dijaga, yaitu beras huma tidak boleh dijual, tanaman lain wajib ditanam di huma, tidak boleh menggunakan pestisida, dan tanah harus diberi waktu jeda untuk memulihkan diri.

Menurut pemateri, proses Ngahuma dilakukan secara bertahap dan dengan semangat gotong royong. Diawali dengan narawas yaitu mempersiapkan lahan untuk penanaman dan sekaligus memohon perlindungan dari bencana. Kegiatan ini dilakukan dengan membuka kembali lahan yang sudah lama dibiarkan. Nyacar membuka hutan dengan cara menebas vegetasi. Nukuh yaitu menjemur ranting, rumput dan vegetasi lainnya sampai kering. Nukuh juga bagian dari ritual untuk memulai pertanian ladang komunitas Adat Baduy. Ngahuru yaitu tahap pembakaran ranting dan rumput. Ngaduruk sebagai pembakaran kedua untuk sisa tumpukan ranting dan rumput yang dikerjakan laki-laki dan perempuan. Ngaseuk adalah tahap menanam padi dengan alat aseuk atau tugal. Laki-laki bertugas membuat lubang dan perempuan mengisi benih. Proses ngaseuk biasanya dilakukan secara gotong royong dan disertai ritual upacara yang dipimpin oleh pemimpin adat. Setelah tumbuh, padi dirawat melalui ngored yaitu membersihkan rumput yang tumbuh diantara padi. Mipit adalah saat panen padi dengan cara memetik satu per satu. Dan dibuat, yaitu hasil panen disimpan di Leuit atau lumbung dari kayu beratap ijuk untuk memenuhi kebutuhan selama setahun.

Waktu bercocok tanam ini, menurut pemateri, tidak lepas dari kalender masyarakat Adat Baduy yang memiliki 12 bulan, yaitu: Kasa, Karo, Katiga, Sapar, Kalima, Kanem, Kapitu, Kadalapan, Kasalapan, Kasapuluh, Hapit Lemah, Hapit Kayu, lalu kembali ke Kasa. Kalender ini menjadi penanda kapan waktu tanam, waktu istirahat tanah, dan waktu pelaksanaan ritual adat.

Bagi pemateri, dari praktik pertanian tersebut kita bisa melihat perbedaan mendasar antara dua cara pandang. Antroposentrisme menempatkan manusia sebagai pusat. Dalam cara pandang ini terjadi pemisahan antara manusia dan alam, alam dipandang sebagai resource untuk ditambang, terjadi perampasan tanah dan deforestasi, dan semua diukur dengan indikator yang sama. Sebaliknya, Ngahuma menunjukkan hubungan yang relasional. Dalam jaringan Ngahuma, tanah, benih, alat, air, api, komunitas adat Baduy, otoritas Kokolot, cerita Nyi Pohaci, Pikukuh, dan ritual semuanya saling terhubung dan tidak dapat berdiri sendiri. Inilah yang menegaskan perbedaan prinsip: “humans control nature as good as possible” berhadapan dengan “human relates with nature as good as possible”.

Lebih jauh, pemateri mengatakan bahwa perbedaan ini juga dapat dijelaskan melalui pendekatan ontologi relasional melalui teori Agential Realism dari Karen Barad dalam buku Meeting the Universe Halfway. Teori ini menolak gagasan bahwa dunia terdiri dari entitas-entitas terpisah. Sebaliknya, realitas muncul melalui intra-aksi antara manusia dan non-manusia. Dalam Ngahuma, tanah ulayat, benih padi huma, air, dan roh leluhur adalah agen aktif yang ikut membentuk kehidupan. Dengan demikian pertanian bukan sekadar produksi, melainkan life-making, yaitu tindakan bersama untuk menciptakan kehidupan. Agensi di sini dipahami sebagai sesuatu yang relasional, bukan individual.

Perbedaan cara pandang itu, menurut pemeteri, akan berujung pada makna kesejahteraan yang berbeda pula. Selama ini kesejahteraan umum diukur lewat ekonomi, kesehatan, kebahagiaan, GDP, HDI, produksi, konsumsi, dan income. Namun bagi masyarakat Adat Baduy, “well-being adalah keterjalinan ontologis; keterkaitan antara manusia, alam, adat, dan spiritual, bukan keadaan subjektif semata”. Atau dengan kata lain, kesejahteraan harus dipahami lewat ontologi relasional. Bukan hanya sebagai perasaan pribadi, tetapi sebagai keutuhan ekologis. 

Pemateri: Anisa Eka Putri Kusmayani

Editor: Yoggy Hermondi Manu