
Ekonomi Biru Tanpa Batas? Folley Menjawab dengan Menahan Diri
Ekonomi biru tanpa batas? itulah janji yang sering terdengar dalam berbagai diskursus global hari ini. Laut diposisikan sebagai ruang pertumbuhan baru: sumber daya yang bisa terus dioptimalkan, selama dikelola dengan prinsip keberlanjutan. Namun di balik janji itu, tersembunyi di balik jeruji satu asumsi yang jarang dipersoalkan bahwa laut selalu tersedia untuk diambil, selama kita cukup cermat mengaturnya.
Di Kampung Folley, Raja Ampat, cara pandang ini justru dibalik. Laut tidak dipahami sebagai sesuatu yang selalu bisa diakses. Ia adalah “ibu” yang memberi kehidupan, tetapi juga memiliki batas yang harus dihormati. Karena itu, mengambil dari laut bukanlah hak tanpa syarat, melainkan tindakan yang harus diatur dalam relasi. Dari sinilah praktik Sasi Laut berangkat bukan dari keinginan untuk memaksimalkan hasil, tetapi dari kesadaran untuk menahan diri.
Cara pandang ini bukan sekadar keyakinan simbolik, tetapi membentuk secara langsung praktik ekonomi masyarakat. Ketika laut dipahami sebagai “ibu”, maka relasi dengannya tidak mungkin bersifat tanpa batas. Ada waktu untuk mengambil, tetapi juga ada waktu untuk berhenti. Dengan demikian, pembatasan dalam Sasi bukan sekadar strategi pengelolaan sumber daya, melainkan konsekuensi dari cara hidup yang menempatkan relasi sebagai dasar. Di titik ini, ekonomi biru perlu dibaca secara kritis. Meskipun alih-alih mempromosikan sebagai pendekatan yang berkelanjutan, ia sering kali tetap beroperasi dalam logika dominatif mengelola laut agar tetap produktif, bukan menata ulang relasi dengan laut itu sendiri. Keberlanjutan direduksi menjadi soal menjaga stok, sementara asumsi bahwa laut adalah objek ekonomi tidak benar-benar berubah.
Pengalaman Folley menunjukkan arah yang berbeda.
Melalui praktik Sasi Laut, ekonomi tidak dimulai dari produksi dan optimalisasi, melainkan dari pengaturan ritme. Laut ditutup dalam periode tertentu biasanya antara enam bulan hingga satu tahun dan selama waktu tersebut masyarakat tidak mengambil hasil di wilayah yang telah ditetapkan. Penutupan ini bukan karena keterbatasan teknologi atau akses, tetapi karena keputusan kolektif yang berakar pada kesadaran akan batas bahwa laut perlu beristirahat dan menarik nafas
Dalam perspektif ekonomi modern, praktik ini dapat dianggap tidak efisien karena menunda potensi produksi. Namun di Folley, justru penundaan inilah yang menjadi fondasi keberlanjutan ekonomi. Dengan memberi waktu bagi laut untuk pulih, masyarakat memastikan bahwa hasil yang diperoleh pada masa buka Sasi memiliki kualitas dan nilai yang lebih tinggi. Dalam satu periode buka Sasi yang berlangsung sekitar satu bulan, pendapatan masyarakat dapat meningkat secara signifikan, terutama dari komoditas seperti teripang.
Namun ekonomi dalam praktik ini tidak berhenti pada produksi dan penjualan. Ia berada dalam jaringan kehidupan yang mengatur cara mengambil, mengolah, dan mendistribusikan hasil. Pengambilan teripang, misalnya, tidak dilakukan secara sembarangan, tetapi mengikuti ukuran dan waktu tertentu. Setelah diambil, teripang diolah melalui proses tradisional seperti pengasapan, pembersihan, dan penjemuran. Pengetahuan ini tidak hanya meningkatkan nilai jual, tetapi sekaligus menjaga kualitas dan keberlanjutan sumber daya.
Lebih jauh, hasil ekonomi dari buka Sasi tidak semata-mata menjadi milik individu. Pendapatan yang diperoleh digunakan untuk kebutuhan keluarga, pendidikan anak, serta berbagai keperluan sosial di kampung. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi dalam konteks ini tidak bersifat individualistik, tetapi terikat pada relasi sosial yang lebih luas. Nilai ekonomi tidak hanya diukur dari keuntungan pribadi, tetapi dari kontribusinya terhadap kehidupan bersama.
Di luar periode buka Sasi, masyarakat tidak berhenti beraktivitas ekonomi. Mereka tetap melaut di wilayah non-Sasi dengan menggunakan alat tangkap tradisional, atau beralih ke kebun untuk mengelola komoditas seperti pinang, kelapa, dan sayur-sayuran. Pola ini menunjukkan bahwa ekonomi masyarakat tidak berjalan secara linear dan terus-menerus, tetapi mengikuti ritme yang menghubungkan laut dan darat sebagai satu kesatuan yang saling menopang. Prinsip ini sekaligus menegaskan bahwa laut, darat, dan manusia tidak hadir sebagai ruang yang terpisah, melainkan sebagai jaringan kehidupan yang saling terkait dan terus dihidupi dalam praktik sehari-hari.
Dengan demikian, praktik Sasi memperlihatkan bahwa ekonomi tidak harus didorong oleh intensitas produksi yang tinggi. Sebaliknya, pembatasan, diversifikasi, dan pengaturan waktu justru menjadi strategi utama dalam menjaga keberlanjutan. Aktivitas ekonomi tidak dipisahkan dari kondisi ekologis, tetapi disesuaikan dengan kemampuan lingkungan untuk pulih dan memberi kembali.
Dalam konteks ini, pengalaman Folley tidak hanya menjadi kritik terhadap ekonomi biru, tetapi juga menawarkan alternatif yang konkret. Keberlanjutan tidak dibangun semata melalui efisiensi pengelolaan, tetapi melalui pengakuan atas batas, pengaturan ritme, dan penguatan relasi sosial dalam pemanfaatan sumber daya. Nilai ekonomi tidak hanya dihasilkan dari produksi, tetapi juga dari kemampuan untuk menunda, mengatur, dan mendistribusikan hasil secara kolektif. Dengan demikian, memikirkan ulang ekonomi biru dari Folley berarti menggeser titik berangkatnya dari keyakinan bahwa laut selalu bisa dimanfaatkan, menuju kesadaran bahwa ada batas yang harus dijaga. Dari dorongan untuk terus tumbuh, menuju keberanian untuk menahan diri. Dari eksploitasi yang diatur, menuju relasi yang dirawat.
Akhirnya, Folley menunjukkan bahwa ekonomi tidak selalu harus bergerak tanpa henti. Ia justru dapat bertahan karena ada jeda, karena ada batas, dan karena ada kesadaran untuk tidak mengambil semuanya sekaligus. Dalam dunia yang terus mendorong pertumbuhan tanpa henti, laut Folley yang teduh memberikan jawaban yang terdengar sederhana namun radikal: bukan dengan mengambil lebih banyak, tetapi dengan tahu kapan harus berhenti, karena berhenti adalah sebuah tindakan yang menegaskan bahwa ekonomi lahir dari relasi, bukan dari eksploitasi.
Petrus Apangba Gilaa, S. Th., M.A